Sekolah SMA Negeri 1 Sukawati

Efektivitas Penggunaan Air Irigasi Pertanian melalui Model Gorongisasi dan Pipanisasi (Studi Kasus Subak Telaga Genteng, Desa Kerta, Payangan, Gianyar)

Efektivitas Penggunaan Air Irigasi Pertanian melalui Model Gorongisasi dan Pipanisasi (Studi Kasus Subak Telaga Genteng, Desa Kerta, Payangan, Gianyar)Dalam UUD 1945, pasal 33 ayat 2 dan 3 disebutkan bahwa air dan bumi dilindungi oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dengan demikian, sumber daya air menjadi milik bersama yang harus dikelola secara adil dan bukan milik perorangan. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam memperoleh, mengelola, dan menggunakan air.

Sumber air yang bisa digunakan untuk kehidupan manusia sebetulnya terbatas sedangkan kandungan air di bumi sangat berlimpah. Menurut Agung Suprihati dalam I Wayan Sudiarsa (2006) menyebutkan bahwa volume seluruh air di muka bumi ini mencapai 1.400.000.000 km3. Lebih kurang 97% merupakan air asin yang tidak dapat digunakan secara langsung dalam kehidupan manusia sehari-hari. Sedangkan sebanyak 2% air berupa gunung-gunung es di kedua kutub bumi. Sebanyak 0,75% merupakan air tawar yang mendukung kehidupan makhluk hidup yang terdapat di darat seperti danau, sungai, dan dalam tanah.

Dibalik semua itu, dengan bertambahnya jumlah penduduk di bumi menyebabkan kebutuhan air meningkat dengan pesat tetapi disayangkan bila kita menggunakan dan mengeksploitasi  air secara berlebihan. Di harian Republika 27 Maret 2003 memberitakan bahwa World Water Assesment Programme (WWAP), lembaga bentukan UNESCO, meramalkan dunia akan menghadapi kelangkaan air menjelang tahun 2025  yang hampir dua per tiga penduduk dunia akan tinggal di daerah-daerah yang mengalami kekurangan air. Hal tersebut juga akan melanda Indonesia, walaupun termasuk dalam 10 negara kaya air. Hal tersebut diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan air, pemakaian air yang tidak efisien,  fluktuasi debit air sungai yang sangat besar, dan kelembagaan yang masih lemah dan peraturan perundang-undangan yang masih lemah. Di lain pihak, kontaminasi dan kerusakan sumber daya air tanah serta sistem irigasi yang sangat tidak efisien diperkirakan akan menyebabkan kurangnya produksi biji-bijian seperti padi dan gandum sampai 10% pada tahun 2025.

Salah satunya, pertanian beririgasi yang memanfaatkan lebih dari 80% air untuk mengairi lahan pertaniannya. Air untuk pertanian beririgasi diperoleh secara gratis atau mendapat subsidi. Sehingga penggunaan air di sektor tersebut sangat tidak efisien. Terbukti bahwa dalam kenyataan yang dapat diamati sebagian dari air yang disalurkan menuju lahan pertanian terbuang dalam perjalanan dari hulu ke hilir atau terserap oleh tanah yang dilalui oleh saluran air tersebut padahal debit air yang berasal dari sumber air di hulu sangat terbatas. Sebagaimana hasil laporan beberapa penelitian, dinas-dinas terkait di daerah, maupun hasil pengamatan empiris menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir banyak lahan sawah yang ketersediaan airnya makin buruk. Ini terkait dengan: (a) desain irigasi yang tidak tepat seperti Arif dalam I Wayan Sudiarsa (2006), (b) menurunnya kinerja sistem operasi dan pemeliharaan irigasi, dan (c) kombinasi dari kedua faktor tersebut seperti Osmet; Sumaryanto dan Friyatno; Sumaryanto dan Sudaryanto, dalam I Wayan Sudiarsa (2006).

 Dengan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan sistem saluran yang masih sederhana dan menggunakan tanah menyebabkan banyak air yang berkurang dalam perjalanan dari sumber mata air sampai ke lahan persawahan. Apalagi bila jaraknya sangat jauh dan banyak terdapat lubang-lubang binatang sawah serta terjadinya penyerapan air oleh tanah. Oleh karena itu, perlu diciptakan satu upaya untuk memperkecil terbuangnya air dalam perjalanan dari hulu (mata air) ke hilir (lahan persawahan).

Berdasarkan pemaparan diatas, kita perlu mencari solusi dalam memecahkannya. Salah satu contoh menarik telah dilakukan oleh warga Subak Telaga Genteng dengan melakukan strategi memperkecil terbuangnya air dari mata air sampai ke lahan persawahan dengan gorongisasi dan pipaisasi. Warga Subak Telaga Genteng telah membuktikan bahwa dalam 14 tahun terakhir menerapkan model gorongisasi dan pipanisasi dapat mengurangi terbuangnya air dari mata air sampai ke lahan persawahan (sepanjang 5 km). Pada umumnya subak di Bali menggunakan tanah sebagai saluran irigasi dengan pola tanam yang berbeda antara subak satu dengan subak lainnya walaupun berada dalam satu wilayah. Dengan penggunaan gorongisasi  dan pipanisasi menyebabkan debit air yang diperoleh di hilir sama dengan debit air yang diperoleh di hulu. Dengan penerapan tersebut maka di Subak Telaga Genteng menggunakan pola tanam yang sama dengan subak lainnya yang masih dalam satu wilayah.

Berdasarkan pemaparan diatas, penulis mencoba melakukan penelitian yang berjudul Efektivitas Penggunaan Air Irigasi Pertanian melalui Model Gorongisasi dan Pipanisasi (Studi Kasus Subak Telaga Genteng, Desa Kerta, Payangan, Gianyar)”.

Selengkapnya, artikel ini dapat diunduh disini

2013-05-01 14:36:33
(Adm)

infoPengumuman

[30-06-2017]
Bagi calon siswa yang sudah mendaftar ulang dimohon kehadiran orang tua / walinya untuk rapat koordinasi pada hari Rabu 5 Juli 2017 Jam 15.00 Wita, di Gor SMA Negeri 1 Sukawati, acara Rapat Koordinasi Persiapan masuk Tess Peminatan dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

[17-06-2017]
Informasi jadwal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri Sukawati 2017-2018 diklik disini

[17-06-2017]
Pedoman Umum Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2017/2018 Klik DISINI

cuacaCuaca

info terbaruYang Terbaru

Berkas Kelengkapan PPDB 2017 2018. 01/07/2017

PPDB Jalur Reguler Tahun Pelajaran 2017-2018. 18/06/2017

PPDB Jalur Miskin Inklusi Kesetaraan Tahun Pelajaran 2017-2018. 17/06/2017

PPDB Jalur Prestasi Tahun Pelajaran 2017-2018. 17/06/2017

PPDB Jalur Lingkungan Lokal Tahun Pelajaran 2017-2018. 17/06/2017

Petunjuk Teknis Pelaksnaan Penerimaan Peserta Didik Baru On Line. 17/06/2017


social networkSuksma Social Network